Informasi Lomba Blog nih Simak di sini

Apa itu dan Pengertian Resensi?

Resensi adalah penilaian/ peninjauan terhadap suatu atau sebuah  karya. Karya yang dinilai dapat berupa buku, film, karya seni,  produk makanan, software (perangkat lunak) dan lain sebagainya.

Berasal dari bahasa belanda “Resentie” bahasa latin “Recensio” Recensare atau Revidere yang berarti mengulas kembali.

Dalam bahasa inggris “Review”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah pembicaraan atau pertimbangan mengenai buku dan ulasan buku

Resensi Menurut Para Ahli

Saryono (1997:56)

Resensi adalah sebuah tulisan seperti esai tapi bukan bagian dari ulasan yang menyeluruh atas sebuah buku.

Dimana isinya bisa berupa laporan, pertimbangan, ulasan, baik buruknya, bermanfaat tidaknya, kuat lemahya, benar salahnya, dan argumentatif tidaknya buku buku yang diresensi. Tulisan yang dibuat itu ditambah dengan foto atau fotocopy dari sampul buku yang diresensi.

Panuti Sudjiman (1984)

Ayo Bergabung di BauBlogging Community WhatsApp Gratis

Komunitas Blogger, Kepenulisan dan Internet Marketing

Terbatas Sampai 5 Desember 2017 (Buruan Sebelum Tautan Diganti)

Klik Tautan WhatsApp Sini 

Ialah hasil penilaian dan pembahasan yang singkat dari sebuah karya tulis.

konteks ini memberikan arti penilaian, membahas, mengungkap secara sekilas, dan mengkritik sebuah buku.

WJS Poerwadaminta (2003:73)

Ialah suatu perbincangan atau pertimbangan mengenai sebuah buku yang menilai kekurangan dan kelebihan buku itu.

Kritikan terhadap buku, menarik tidaknya isi dan tema buku, dan memberi rekomendasi kepada orang mengenai perlu atau tidaknya membaca buku tersebut.

Perbincangan mengenai buku tersebut biasanya ada dalam surat kabar atau pun majalah.

Romli (2003)

Resensi adalah tulisan yang dibagi tiga bagian, yakni pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Pada bagian pendahuluan berisi mengenai informasi identitas buku yang meliputi: judul, penulis, penerbit, dan tahun terbitnya jumlah halaman, dan harga buku jika diperlukan.  

Kemudian di bagian kedua berisi ulasan tentang tema atau judul buku, paparan singkat isi buku (mengacu kepada daftar isi) atau gambaran tentang keseluruhan isi buku, dan informasi tentang latar belakang serta tujuan penulisan buku tersebut.

Terakhir adalah bagian ketiga, di bagian ini terdapat simpulan mengenai perlu–tidaknya buku dipergunakan dan berisi pengungkapan saran yang mengacu pada perbaikan buku.

 

Struktur  dan Unsur Resensi

1. Judul yang akan diresensi (direview)

Judul resensi harus sesuai dengan isi dalam buku yang hendak diresensi. Jangan membodohi pembaca tapi buatlah judul yang menarik untuk terus membacanya.

2. Menyusun Data Buku

Menyusun data buku seperti 

Identitas Buku

Judul Buku :Kisah – Kisah Masa Muda Sang Visioner

Penulis : Gina S. Noer

Editor : –

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan : –

Jumlah Halaman : 280

Jumlah Bab : –

Ukuran Buku : 

Berat Buku : 0.49 kg

Harga : Rp. 68.000

Tahun Terbit : 2015

https://konnect.adpxl.com/tracking/redirect/763/13?sub_id=default&redirect=https%3A%2F%2Fwww.muslimarket.com

ISBN : 9786022911111

data diatas diambil di sini Review Buku nonfiksi Habibie Masa Muda

3. Isi Resensi

4. Penutup resensi

Tujuan Resensi Buku

1. Mengetahui dan mengerti kelebihan dan kelemahan sebuah buku yang diresensi

2. Memberikan masukan kepada penulis untuk kritis dan saran terhadap isi buku, substansi dan cara penulis mau menyajikan model menulis buku seperti apa dan bagaimana

3. Mengetahui latar belakang dan alasan mengapa buku itu ditulisa serta layak diterbitkan

4. Menguji kualitas buku dan membandingkan buku yang lain baik itu temanya mirip  maupun tidak mirip

5. Memberikan informasi bagi calon pembaca buku

Manfaat Resensi Buku

1. Mendapatkan gambaran sekilas tentang suatu buku untuk bahan pertimbangan pembaca / yang mau mencari suatu buku

2. Meninjau apakah buku yang akan dibeli punya nilai lebih  agar tidak terjadi penyesalan kemudian ketika membeli.

3. Menjadi Strategi pemasaran / promosi buku peluang lebih diketahui banyak orang meningkat

4. Bagi resentator, meningkatkan pengetahuan atas buku yang dibaca disebabkan telah mengikat ilmu dengan menulis

Langkah – langkah dan Cara dalam Membuat Resensi Buku

 

 

Bacaan Bermutu : Cara Mendapatkan Uang dari Menulis Resensi di Situs Website Blog Saudara [Panduan Lengkap]

Macam – Macam Resensi Buku

1. Resensi Informatif

Ialah resensi jenis resensi yang menjelaskan atau menerangkan sebuah isi resensi buku dengan singkat dan biasanya umum dari isi buku.

2. Resensi Deskriptif

Ialah jenis resensi yang menjelaskan atau menerangkan secara mendetail di setiap bab atau bagian dari isi buku .

3. Resensi Kritis 

Ialah jenis resensi yang menjelaskan atau menerangkan lebih rinci lagi detail menggunakan metodologi ilmu pengetahuan tertentu.  Jenis resensi ini objektif dan kritis dalam menilai sebuah isi buku.

Contoh Resensi Buku Non Fiksi #1

Identitas Buku

Judul Buku : Disruption: Tak Ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi, Motivasi Saja Tidak Cukup

Penulis : Renald Kasali

Editor : –

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : –

Jumlah Halaman : 528

Jumlah Bab : –

Ukuran Buku :

Berat Buku : 0.70 kg

Harga : Rp. 118.000

Tahun Terbit : 2017

ISBN : 9786020338682

Buku ini merupakan buku terbaru dari Pak Rhenald Kasali yang membahas khusus tentang Disruption, baik dalam skala Global maupun yang terjadi di Indonesia.

Disruption. Kata-kata yang mendadak populer belakangan ini, dan kerap berkaitan erat dengan Startup. Namun jika ditinjau lagi, Clayton M. Christensen, salah satu professor di Harvard Business School sudah bertahun-tahun lalu memperkenalkan konsep Disruptive Innovation, yang tentunya tidak hanya berupa cerita praktis, tapi sudah diterjemahkan menjadi berbagai jurnal ilmiah dan akademis.
Dalam buku ini, Pak Rhenald berusaha membedah teori Disruptive Innovation dari Clayton Christensen dan menerjemahkannya menjadi berbagai studi kasus yang lebih mudah dimengerti, terutama untuk para praktisi, walaupun memang dasar-dasar akademis juga turut diberikan sebagai dasar kerangka berpikir.

Contoh disruption yang sedang populer di Indonesia, tidak lain adalah keberadaan para angkutan online yang perlahan tapi pasti mampu menggerus laba dari angkutan tradisional seperti taxi. Pada mulanya, incumbent (dalam hal ini adalah angkutan konvensional) tentu tidak akan menyangka bahwa angkutan Online (diwakili GoJek, Grab, dan Uber) mampu membuat perubahan yang sebenarnya sangat besar, tapi tidak mendadak. Hal inilah yang seringkali membuat incumbent terlena, merasa bahwa posisinya di atas angin, hingga akhirnya data dan statistik (yang seringkali bersifat lagging, diketahui belakangan) membuktikan bahwa para startup ini ternyata berdampak cukup signifikan, dan sialnya, tidak terlalu kentara dampaknya.

Ilustrasi yang mengena adalah cerita tentang seekor kodok. Ketika kodok tersebut dilemparkan ke dalam air yang panas, maka seketika kodok akan melompat keluar untuk menyelamatkan diri. Namun, ketika kodok dimasukkan ke dalam air yang pelan-pelan dipanaskan hingga mendidih, kodok tidak merasa ada bahaya yang mengancam hingga akhirnya mati di dalam.

Kisah ini pula yang mungkin sedang dialami oleh incumbent di mana-mana di seluruh dunia, baik di sektor transportasi, perhotelan (yang diguncang oleh keberadaan AirBnB), atau bahkan pusat perbelanjaan fisik (yang sekarang mulai tersaingi dengan kemudahan bertransaksi online). Karena disruption tidak terjadi secara mendadak dan “mengguncang”, maka keberadaannya seringkali diabaikan hingga keadaan menjadi terlambat. Ketika kondisi mulai tidak ideal bagi incumbent, maka dengan power yang dimiliki, incumbent akan berusaha untuk menghambat disrupsi ini.

Salah satunya tentu adalah dengan mengadu kepada regulator dan berusaha membuat peraturan yang mengekang disrupsi tersebut, dengan mengatasnamakan “playing in the same field”. Contoh nyata adalah adanya tarif batas bawah dan atas yang baru saja diberlakukan oleh pemerintah untuk mengatur angkutan online. Bahkan, tidak cukup sampai di situ, pemerintah juga membatasi jumlah angkutan online yang boleh beroperasi. Bukankah ini sebenarnya bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia?

Berbagai kepentingan dan contoh kasus ini semacam inilah yang banyak dibahas oleh Pak Rhenald. Tidak hanya itu, beliau juga memberikan panduan/guidelines bagaimana seharusnya disrupsi dapat dilakukan, dan bagaimana seharusnya reaksi incumbent jika mengalami efek dari disrupsi tersebut.

Menarik untuk disimak dalam waktu mendatang, bagaimana kelanjutan pertarungan antara incumbent melawan disruptive startup. Sebagian incumbent cukup rasional untuk melakukan kerja sama dengan startup (seperti BlueBird yang akhirnya bekerja sama dengan Go-Jek). Sebagian lain yang tidak mampu beradaptasi mulai kelimpungan dan menunjukkan tanda-tanda kegagalan bersaing. Sebaliknya, dari Startup, harus diperhatikan juga bahwa mungkin selama ini mereka masih memiliki sumber pendanaan dari investor yang kuat untuk melawan incumbent dengan cara melakukan subsidi. Namun, perlu dipikirkan ulang, apakah cara mereka membangun business sudah sustainable untuk jangka panjang?

Masih tertarik dengan Digital Disruption? Berikut post lain yang masih berkaitan dengan buku Disruption.

Contoh Resensi Buku Nonfiksi #2

Identitas Buku

Judul Buku :Kisah – Kisah Masa Muda Sang Visioner

Penulis : Gina S. Noer

Editor : –

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan : –

Jumlah Halaman : 280

Jumlah Bab : –

Ukuran Buku : 

Berat Buku : 0.49 kg

Harga : Rp. 68.000

Tahun Terbit : 2015

ISBN : 9786022911111

Sinopsis

Ini adalah perjalanan Rudy menjadi B.J Habibie.

Rudy adalah kisah yang disusun dari cerita-cerita B.J. Habibie yang belum diceritakan sebelumnya. Ini adalah kisah tentang perjalanan tumbuh dewasa seorang anak laki-laki dan Indonesia yang masih belia.

Tak banyak yang tahu bahwa cita-cita membangun industri pesawat terbang untuk Indonesia justru diawali oleh ketakutan Rudy akan burung besi pada masa Perang Dunia Kedua. Tak banyak juga yang tahu kisah cinta tersembunyi Rudy sebelum akhirnya ia bertemu Ainun, cinta sejatinya, dan fakta bahwa Rudy tak terlalu suka kata “mimpi” sebagai kata ganti hal yang sangat diinginkannya. Baginya, “cita-cita” adalah kata yang lebih menjejak dan nyata.

Dalam buku ini kita akan temukan alasan kenapa Rudy jengah bila dipanggil gebius, tapi lebih senang bila disebut sebagai pekerja keras yang setia. Setia pada cita-citanya. Setia pada cintanya. 
Kita akan mengikuti perjalanan bagaimana B.J. Habibi yang kita kenal datang dari visi besar orangtuanya, pengorbanan keluarganya, dukungan para sahabatnya, dan inspirasi terbesarnya: Indonesia.

Macam Macam Resensi yang Patut Diketahui dan Contoh Resensi Buku Fiksi dan Nonfiksi

Leave a Reply