BAU BAU

aku memberi tiga pertanyaan kepada teman – teman yang mau diwawancarai untuk mendapatkan sebuah jawaban soal strategi terbaik menjadi seorang penulis. 

Ceritakan pengalaman menjadi penulis buku “strategi terbaik menjadi seorang penulis yang punya pengaruh bagi pembaca / karya dikenal luas” meliputi a) Penggunaan social media b) Membangun jaringan c) Membangun branding penulis d) Tips manjur untuk penulis pemula / baru dari kakak apa

saudara pasti mencari tahu bagaimana cara menjadi penulis bukan? penulis buku, penulis novel, penulis artikel, penulis freelance dan lain lain sebagianya.

sebagian ada yang mencari informasi seputar komunitas menulis online baik di WA, facebook, telegram hingga komunitas yang nyata di sekitar daerahmu untuk sekedar mendapatkan tips -tips menulis dari para penulis yang lebih dahulu berkecimpung didalamnya.

maka dari itu aku berusaha mencari penulis – penulis / blogger yang sudah memiliki pengalaman di kancah dunia kepenulisan.

1. Novarina Dian Wardani – www.nodiwa.com

Foto Profil Novarina Dian Wardani

Mau Ikut Kelas dan Materi Kepenulisan, Blog Dan Pemasaran Internet?

Gratis

Besok Malam Kamis/Malam Jum'at 09 november 2017

Join Grup BauBlogging WhatsApp

https://chat.whatsapp.com/Ef53C52ZAAx2Tm0naUiQt5

Apakah kamu udah ikut komunitas sesama pembaca Baublogging.com?

www.facebook.com/groups/baublogging

A. Berbagi tulisan-tulisan atau postingan yang bermanfaat, bagi banyak orang. Tentang apa saja. Bisa tentang kegiatan sehari-hari. Bahkan pengalaman seorang ibu rumah tangga saat harus menyiapkan menu praktis untuk sarapan, juga bisa ditulis dan dibagikan. Siapa tahu ada pembaca yang tertarik dan mencoba

B. Mengikuti dan bergabung dengan komunitas-komunitas menulis, ikut challenge2nya, berperan aktif. Yang penting tetap mencoba ikut serta

C. Branding sebagai penulis bisa timbul bila kita aktif menulis dan membaginya, di semua akun media sosial yang dipunya.

D. Tips untuk pemula : tetap menulis, menulis dan menulis. Jangan mudah menyerah. Tetap semangat untuk belajar memperbaiki tulisan

2. Dita Ayu Maharani

a. Penggunaan sosial media; Seperti yang diketahui bersama, sosial media sudah menjadi tren. Kasarannya dari mulai usia remaja –bahkan anak-anak– sudah menjadi ‘pecandu’ sosial media.

Hal ini semestinya menjadi peluang untuk memasarkan suatu barang.

Contoh yang sederhana, kita bisa memasang iklan agar buku2 tsb bisa terbabat habis, atau yang kedua kita meletakkan secuil cerita sebagai prolog yang menarik di laman blog. Cerita itu dibuat secara bersambung.

Jika feedback dari pembaca banyak otomatis membuat banyak orang ingin menaruh iklan. Lalu dibagian mendekati konflik atau ketika membuka tabir permasalahan cerita itu di STOP, dan disitulah kita meletakkan “Ayo beli buku” bla bla bla.

Ini memang strategi yang riskan, namun bisa dicoba. Kemudian jangan lupa untuk memasarkan produk. Misalnya giveaway di instagram. Jika banyak melakukan giveaway akun akan menjadi viral, penjualan bisa meningkat. 

b. Di era serba ada, membangun jaringan susah-susah gampang. Jaringan yang dimaksudkan bisa dikategorikan dua hal.

Pertama, jaringan real kehidupan sehari-hari. Misalnya dari sekolah, kampus, kenalan guru, organisasi, siapapun yang kita kenal dan berkenan membaca buah karya kita lalu merekomendasikan kepada yang lain dalam lingkup yang lebih luas.

Kedua jaringan di dunia maya, ini justru lebih mudah. Media sosial sangat amat mendukung dalam pembentukan komunitas. Grup facebook, whatsapp, BBM, telegram, dsb, bisa juga halaman facebook. Di awal perintisan memang sulit, namun jika mengorbankan sedikit biaya demi keuntungan tidak apa-apa. Misalnya mengadakan lomba, giveaway (seperti yg sdh saya jelaskan) dsb.

C. Branding Untuk menjadi penulis perlu penulis lain. Memang sulit, namun coba meminta pendapat para ahli yang lainnya. Misalkan sesama penulis namun namanya sedikit melejit melebihi kita. Lalu dalam buku kita tercantum “…direkomendasikan oleh penulis A” atau seorang tokoh masyarakat yang akrab.

D. Terus mencoba dan mencoba mencoba. Hingga hasil cobaan itu menjadi buah karya. Kata-kata ini juga yang memotivasi diri saya.

mau menambah jaringan penulis dengan kak Dhita? follow Ditaayu6

3. Juliana Dewi – www.julianadewi.com

PENGALAMAN MENJADI PENULIS BUKU

Sebelum menulis buku aku sudah jadi penulis di blog alias blogger. Di blog aku mencantumkan alamat email supaya bisa terjalin komunikasi dengan pembaca blog.

Komunikasi dengan pembaca blog menurutku penting. Dari tanggapan mereka terhadap tulisanku, aku bisa tahu artikel mana saja yang menarik perhatian mereka.

Di blog aku menulis tentang travelling, touring dengan motor besar, kuliner, parenting, transforming behavior skill, dan kehidupan rumah tangga. Tulisan tentang parenting termasuk yang menarik minat pembaca blog. Karena alasan itu, 2 buku yang sudah terbit bertema parenting.

https://konnect.adpxl.com/tracking/redirect/763/13?sub_id=default&redirect=https%3A%2F%2Fwww.muslimarket.com

PENGGUNAAN SOSIAL MEDIA

A. Untuk membangun branding penulis Selanjutnya, agar tulisanku dibaca lebih banyak orang, aku juga mempromosikan tulisan-tulisanku di blog lewat media sosial Facebook, group-group Whatsapps,Instagram, Line dan Google+. Lalu aku juga submit tulisanku ke portal berita, antara lain portal Dream dan Viva.

Hasilnya jelas, kunjungan ke blogku meningkat. Aku sudah punya “penggemar “ yang rajin berkunjung ke blog, dan membaca tulisanku. Para penggemar ini adalah calon customer yang kelak membeli bukuku. Aku juga rajin menulis status di media sosial, yang berhubungan dengan tema-tema tulisan di blogku. Misalnya tentang parenting, kehidupan rumah tangga, traveling dan lain-lain.

Aku membatasi diri tidak menulis hal-hal negative yang memicu emosi. Tidak menulis atau men-share tulisan yang tidak jelas asal-usulnya, tidak mencaci maki, tidak curhat, apalagi menulis keburukan orang lain.

b. Untuk memasarkan buku. Ketika menulis buku pertama bersama Mbak Okina Fitriani dan teman-teman, yaitu buku The Secret of Enlightening Parenting (terbit di Gramedia), aku bersama teman-teman mempromosikan buku itu di media sosial masing-masing.

Banyak yang tertarik dan beli ke toko buku offline, dan toko buku online. Banyak juga yang ingin membeli buku langsung dari kami, para penulis, dan transaksinya dilakukan secara online.

STRATEGI KHUSUS

Aku dan teman-teman penulis juga punya strategi sendiri. Kami borong buku kami dari toko-toko buku Gramedia, lalu kami bawa buku-buku itu ke berbagai pertemuan. Misalnya, aku suka ikut pengajian, arisan, reuni, diskusi dan lain-lain di berbagai komunitas.

Aku promosi buku lagi, dan mereka pun rata-rata sudah tahu lewat media sosial kalau aku menulis buku. Jadi ketika mereka melihat aku bawa bukunya, ya sudah, habislah dibeli teman-temanku. Strategi men-share tulisan lewat Whatsapps group juga ternyata sukses membuat bukuku laris terjual.

Karena dengan rajin men-share tulisan, teman-teman sudah mengenal gaya tulisanku. Orang seringkali tanya, “ Beli bukunya dimana, Mbak?” “Di Gramedia.” “Ya deh.. nanti kalau ke Gramedia aku beli.” Kenyataannya mereka kemudian lupa, tidak jadi beli bukunya.

Tapi kalau mereka bertemu aku dan melihat bukunya sudah ada di depan mata, ya langsung dibeli. Hehehe… memborong buku sendiri di toko buku itu cuma strategi memudahkan teman-teman dan pembaca blogku untuk membeli buku. Memborong buku itu juga tidak rugi, karena bukunya toh habis dibeli orang.

Dengan strategi ini, buku kami sold out dalam tempo 3 bulan, lalu Gramedia mencetak ulang buku dengan logo “National Best Seller.”

Buku cetakan kedua dengan logo national Best Seller ini pun kemudian sold out juga. Sayang sekali Gramedia tidak mau mencetak ulang lagi. Entah kenapa. Padahal banyak customer yang ingin membeli buku itu. Akhirnya kami mencabut hak penerbitan buku dari Gramedia dan sekarang sedang proses untuk diterbitkan lagi oleh penerbit yang berbeda.

PENGARUH BAGI PEMBACA

Apakah tulisan di buku itu punya pengaruh bagi pembaca? Jelas sekali. Buku The Secret of Enlightening Parenting bukan ditulis oleh penulis terkenal.

Para penulisnya adalah orangtua biasa, yang sudah mempraktekan pengasuhan anak dengan cara Enlightening Parenting.

Cara yang dilakukan mereka mudah ditiru, mudah diaplikasikan oleh orang tua manapun, sehingga mungkin itulah yang membuat buku ini laris manis.

Sejak buku itu terbit, permintaan untuk diadakan training parenting ala The Secret of Enlightening Parenting pun bermunculan. Aku dan beberapa teman team inti penulis akhirnya bergerak untuk memfasilitasi berbagai training yang diadakan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Pekanbaru, Jogjakarta, bahkan sampai ke Bangkok. Peserta training datang dari berbagai penjuru. Bukan hanya dari Indonesia, ada juga yang datang dari Spanyol, Myanmar, Thailand, Timur Tengah, dan lain-lain. Tak disangka, tulisan bisa menggerakkan orang sedemikian rupa untuk belajar. Masya Allah…

MEMBANGUN JARINGAN

Kami juga membangun jaringan. Para alumni training The Secret of Enlightening Parenting dikumpulkan dalam group-group Whatsapps untuk memudahkan saling share ilmu dan pengalaman mempraktekkan ilmu ini dalam pengasuhan anak.

Mbak Okina Fitriani yang menjadi mentor, secara aktif men-share ilmunya dan menanggapi pertanyaan dari para alumni. Hal ini penting untuk me-maintain jaringan.

Selain itu kami juga membuat Fan Page di Facebook dan sudah memperoleh 11.000 followers. Fan Page gunanya untuk memudahkan masyarakat memperoleh info tentang kegiatan training, sharing parenting, dan informasi tentang buku dan lain-lain.

Ada mimpi besar yang bersama-sama ingin kami wujudkan, yaitu menyebarkan seluas-luasnya ilmu parenting ini agar semakin banyak orangtua yang tergerak untuk menerapkan pada anak-anak mereka.

Diterapkannya ilmu parenting ini bertujuan untuk membangun generasi gemilang yang terjaga fitrah baiknya. Suatu saat anak-anak dari generasi gemilang inilah yang akan maju untuk menjadi pemimpin negara ini. Sehingga Indonesia akan menjadi negara terdepan, karena akhlak terpuji dari para pemimpin dan rakyatnya. Kemudian aku bersama sahabatku, Gita Djambek, menulis buku kedua, “A Parent’s Diary-Anakku Tamu Istimewa” .

Buku ini pun ditulis bersama para kontributor, alumni training parenting yang sudah sukses mengaplikasikan ilmu mereka pada anak-anaknya. Kami menerbitkan buku ini secara mandiri, dengan mencetak 1000 buku. Peran jaringan sangat besar dalam pemasaran buku ini. Seribu buku kami itu segera habis terjual, bahkan sudah habis dipesan sebelum buku itu dikirim oleh pihak penerbit. Para alumni banyak yang membeli dalam jumlah besar, untuk kemudian dijual kepada teman-teman di komunitasnya, atau lewat sosial media mereka. Dalam 10 hari seluruh buku habis terjual. Dan sekarang kami sedang mendiskusikan rencana untuk mencetak ulang buku kedua ini.

TIPS UNTUK PENULIS PEMULA

1. Rajin-rajin memperkenalkan tulisan lewat media sosial supaya gaya tulisan dikenal orang.

2. Kenali tulisan bertema apa yang paling menarik minat pembaca. Karena buku dengan tema yang paling menarik kemungkinan akan banyak dibeli orang.

3. Gunakan sosial media untuk membangun branding diri penulis. Penting sekali membatasi diri hanya untuk menulis kebaikan, karena hal-hal negative bisa memberi gelar “buruk” bagi penulisnya.

4. Gunakan sosial media untuk promosi buku. Jangan hanya memasang foto buku saja, tapi lengkapi dengan pengalaman nyata, dan testimoni para pembaca buku.

5. Bangunlah jaringan. Hal ini sangat penting, karena membangun jaringan sama dengan membangun “pasar” bagi karya kita.

6. Menurut pengalamanku, niat awal menulis buku sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan buku tersebut. Dari awal menulis buku, aku dan teman-teman sudah mencanangkan untuk memberikan royalti, maupun keuntungan penjualan buku untuk membantu pendidikan anak dhuafa. Aku yakin, niat inilah yang didengar Tuhan, sehingga bukunya laris manis tanjung kimpul.

MARI TERUS BERKARYA!

4. Lily Kartika

Foto Profil Lily Kartika

3M

Mau jadi penulis?

Menulislah.

Tidak ada cara lain.

Ibarat ingin bisa mengendarai sepeda, apa yang harus kita lakukan?

Ambil, naiki dan berlatihlah dengan sebuah sepeda. Jika hanya diniatkan, insya Allah kita tidak akan pernah bisa mengendarai sepeda itu. Kata kuncinya di sini adalah berlatih. Awal berlatih menulis akan terasa kaku, sama seperti ketika kita berlatih bersepeda untuk pertama kalinya.

Seiring latihan yang rutin, semuanya, insya Allah, akan berjalan lancar. Ingat kan saat kita belum bisa dan mahir naik sepeda?

Hampir setiap hari pada pagi dan sore kita berlatih.

Kita juga perlu melakukan hal yang sama jika ingin bisa menulis. Dengan siapa dan dari mana?

Pertama, dari para penulis yang sudah beken terlebih dahulu.

Bagaimana caranya?

Temui mereka melalui buku-buku mereka. Dengan hanya sekali membayar, mereka akan terus mengajarkan kita seumur hidup.

Jika masih belum mengerti, tanya (baca) kembali. Tapi, yang paling penting adalah mempraktikkan ilmu yang kita dapat.

Membacanya saja percuma. Itulah yang saya lakukan. Belasan buku tentang teknik menulis ada di lemari buku saya (maaf, bukan bermaksud pamer).

Cukupkah belasan buku itu?

Belum.

Masih banyak buku yang ingin saya beli, terutama tentang teknik menulis cerpen dan puisi.

Sudah beli, baca dan praktikkan saran dan latihan dari buku-bukunya/belum? Kedua, bergabung dengan komunitas penulis.

Namun, ini belum menjamin kita bisa menjadi penulis. Tapi jangan pesimis. Banyak kok penulis yang berasal dari komunitas penulis.

Jika setelah bergabung kita tidak menghasilkan satu tulisanpun, itu bukan masalah. Ilmu yang didapat tetap bermanfaat.

Itulah alasan mengapa saya ingin membentuk komunitas sejenis di Tangerang dan sekitarnya.

Bergabung atau tidak bergabung dengan sebuah komunitas mungkin tidak menjadi sebuah masalah. Yang penting ingat judul di atas.

Tiga M: Membaca, Membaca, dan Membaca. Lalu lanjutkan dengan tiga M berikutnya: Menulis, Menulis , dan Menulis.

5. Rahmania Radjadi – BlogAlaGue.com

A. Penggunaan Sosial Media: Bagi saya penggunaan sosisal media itu sangat krusial. Saya menggunakan sosial media tidak hanya sebagai sarana untuk berbagi konten atau tulisan saya teteapai juga sebagai sarana yang saya gunakan untuk mencari “masalah”. Yang saya maksud dengan masalah adalah saya melihat masalah apa saja yang sering dihadapi blogger dan target pembaca dari blog saya.

Dari situ saya bisa mendapatkan banyak sekali masalah sehingga saya bisa membuat konten ataupun tulisan yang memberikan solusi terhadap masalah tersebut. Selain itu, saya juga menggunakan sosial media untuk melihat konten ataupun tulisan dari blogger lain yang memiliki pemikiran sejalan dengan saya terhadap dunia blogging.

B. Membangun Jaringan: Jaringan bagi blogger itu penting. Ada dua cara yang paling ampuh untuk blogger dalam membangun jaringan.

Pertama, blogger masuk kesebuah jaringan yang sudah terbentuk, dari jaringan tersebut blogger bisa membuat banyak pertemanan baru dan saling menginspirasi satu sama lain.

Bisa saling diskusi dan bertukar pendapat terhadap pengalamannya masing-masing di dunia blogging, bertukar informasi tetang menulis dan pembuatan konten.

Juga bila ada seseorang yang telah publikasi buku secara masal pada jaringan tersebut, blogger bisa banyak tanya tentang pengalaman tersebut dari mulai menulis buku sampai proses berhasil terbit masal.

Kedua, blogger membangun jaringannya sendiri yang bisa sangat bermanfaat sekali untuk mendapatkan target pembaca. Ini sangat bagus sekali untuk blogger yang sedang merencanakan penulisan buku dan ingin mengembangkan blog yang dimilikinya.

Dari jaringan yang dibangun tersebutlah blogger bisa mendapatkan pembaca setia yang dapat terbentuk menjadi sebuah komunitas. Untuk saya sendiri, saat ini saya masih lebih banyak bekecimpung dengan cara pertama.

Untuk cara kedua, saya juga berencana untuk membangun sebuah komunitas blogger yang bertujuan mengumpulkan blogger yang ingin menjadi seorang blogger profesional melalui niche blog.

Kenapa niche blog?

karena memang interest terbesar saya didunia blogging adalah niche blog dan niche blog yang berhasil dikembangkan dapat berpotensi untuk dijadikan sumber penghasilan bagi bloggernya. Sehingga kata “full time blogger” dapat direalisasikan.

C. Membangun Branding Penulis: Membangun branding untuk blogger atau penulis ada dua.

Pertama adalah branding blog/buku yang dihasilkan dan kedua adalah branding personal untuk blogger atau penulisnya sendiri.

Membangun branding untuk blog bisa dilakukan dari pertama kali saat kita merencanakan blog. Mulai dari pemilihan nama blog yang dijadikan nama domain, membangun identitas blog, hingga gaya konten yang dihasilkan blog, saya menyebut semua ini sebagai identitas blog.

Ketika identitas blog sudah kuat dan mulai diketahui atau dikenali baik oleh pembaca dan target pembaca, blogger bisa mulai membuat prduk terhadap brand dari blog tersebut. Produknya juga bisa dipilih dari berbagai macam jenis seperti produk digital, buku, kursus, merch, dan event.

Untuk branding personal dari blogger atau penulisnya sendiri, branding dapat dilakukan dengan konsistensi blogger dalam memproduksi konten, gaya konten yang dihasilkan, dan persona seperti apa yang blogger inginkan untuk dikenal oleh masyarakat.

Blogger/penulis juga harus hati-hati saat membangun brand personalnya, karena kalau yang saya perhatikan belakangan ini blogger atau penulis kurang berhati-hati dalam membedakan brand personal dengan personal dirinya sendiri.

membangun brand personal bukan berarti kita juga membuka personal diri secara blak-blakan terhadap publik. Banyak yang salah kaprah terhadap hal ini.

Alhasil brand personal yang dibangunpun menjadi terpengaruh ketika personal diri dari blogger/penulis yang negatif juga turut dibuka kepada publik. membangun branding personal berarti juga berhati-hati dalam penggunaan sosial media, blogger dan penulis harus bisa bijak ketika ingin “bereaksi” terhadap suatu trend yang sedang menjamur baik trend berita ataupun trend lifestyle.

D. Tips Untuk Penulis Pemula: Ketika sudah berniat untuk memproduksi konten/buku sebaiknya langsung segera dieksekusi nitanya, jangan banyak menunda.

jangan pernah takut bahwa yang kita hasilkan nanti jelak atau tidak berkualitas, karena semakin banyak kita menulis atau membuat konten kita akan semakin paham irama kerja kita terhadap penulisan dan pembuatan konten tersebut. Jangan takut untuk mencoba berbagai jenis cara dalam pembuatan konten.

Blogger dan penulis juga harus banyak baca! Bagaimana ingin membuat konten blog atau menulis buku kalau kita sendiri tidak suka melihat konten milik blogger lain atau membaca buku?

Buat milestones atau tujuan-tujuan dalam pencapaian menjadi blogger dan penulis untuk diri anda Ajarkan diri Anda sendiri untuk mempunyai etika kerja yang baik dan ajarkan diri Anda untuk bertelinga dan bermuka tebal terhadap hal-hal negatif yang ingin menjauhkan Anda dari milestones dan tujuan-tujuan anda.

Anda harus yakin terhadap diri anda sendiri bahwa anda mampu. Penulis-penulis hebat yang sudah memiliki nama yang besar dulu juga pernah menginjakan kaki diposisi yang sama seperti posisi Anda saat ini.

 6. Umar Satrio Hadi

A. Sosial media itu tempat tatap muka tanpa batas semua manusia. Sebagai penikmat ilmu, banyak yang bisa dibaca dari sana, sekaligus juga ruang debat dengan iklim egalitarian yang luar biasa.

Dongkrak Penjualan Melalui Marketing Strategy & Competitive Positioning: Mengukur Segmentasi, Targeting, dan Positioning Menggunakan SPSS

Siapa pun bisa mendebat apa pun di sosial media. Sebagai penulis pun sama, kita berhak menulis apa pun, pun orang lain berhak menilai apa pun dari kita.

Feedback demikian agaknya terjadi hanya di sosial media. Pengalamanku di forum-forum sastrawan dan budayawan, feedback semacam ini sangat jarang.

Entah karena ada yang teganggu dengan perkembangan penulis pemuda, atau memang suka menggurui saja. Sebagai penulis, sosial media seperti Facebook itu sangat menarik.

Terutama di forum-forum yang sesuai dengan minatku. Seperti forum filsafat, sejarah, budaya dan wayang. Bukankah sebagai penulis, wawasan adalah pistol dan tulisan adalah peluru?

Sosial media adalah kanvas yang cukup baik untuk itu. Selain juga, potensinya untuk marketing karya kita. Siapa pun berhak membaca apa pun dan bisa mengkritisi apa pun.

B. Bergabung dengan komunitas. Sudah (Bergabung Komunitas itu Perlu)

C. Jadi diri sendiri. Sudah, itu saja.

Jangan mau jadi seperti Tere Liye, Asma Nadia, Dee Lestari atau siapa pun. Toh, kita bukan mereka. Lain penulis, pasti lain gaya penulisan, penggunaan kata, diksi, wawasan, dan lainnya.

Mengikuti penulis lain untuk menemukan bentuk awal tulisan kita memang wajar. Bahkan, untuk penulis awam, plagiat dan menulis ulang karya orang sampai klaim itu banyak terjadi. Tujuannya menemukan bentuk kalimat atau gaya menulis yang tepat dengan gaya kita.

Namun, kita bukan siapa yang kita tiru. Kita ini, ya, kita sendiri. Banyak penulis yang menulis meniru penulisan penulis lain, alasannya beragam. Bisa karena tulisan dia lebih gampang dicerna, pilihan kalimatnya menarik, hingga ingin cepat populer.

Jika branding adalah akumulasi dari apa yang kita karyakan dan bagaimana orang melihat karya kita, branding apa yang kita bangun dari cara demikian?

Justru dengan menjadi diri sendiri dan terus menjadi diri sendiri, brand itu akan terbentuk. Orang akan mengenal, “oh, ini tulisan dia,” bukan, “oh, ini tulisan si dia yang gaya nulisnya mirip si itu.” Aku bukan orang yang senang berpura-pura menjadi orang lain.

Meskipun, dalam beberapa kesempatan memang harus berpura-pura juga. Lebih baik berprinsip, “meskipun kurang pantas, tapi ini tulisanku,” bukan, “tulisan yang bagus, namun aku tak ada di sana.” Sisanya, biar pembaca yang memutuskan.

Toh, pembaca juga sering melihat keunikan dalam tulisan kita sebagai kelebihan. Terus menerus menulis dan konsisten dengan gaya itu, brand akan terbentuk lambat laun.

D. Ada hal yang jamak dilupakan penulis sekarang, yaitu pentingnya wawasan yang luas. Penulis baru, bahkan beberapa penulis lama yang sudah terkenal, sering kali lupa dengan ini. Teknik menulis, editing, penggunaan media itu adalah ‘software’ dalam menulis. Brainware sering diabaikan, padahal penulis itu bukan mesin yang hanya menulis saja. Wawasan bisa diperbanyak dengan banyak membaca buku, berdiskusi, berkontemplasi dan mengalami banyak hal.

Penulis tanpa wawasan yang luas hanya tak lain hanya mesin ketik, tulisannya kurang mendalam dan hanya memberi informasi alakadarnya kepada pembacanya, beda dengan penulis yang punya wawasan luas.

Ibaratnya begini, tulisan seorang dokter tentang virus Ebola tentu beda isinya dengan tulisan anak SMA yang jarang baca buku, meskipun sudah riset 2 hari dengan internet.

Pun begitu seorang penulis. Tulisan adalah output dari wawasan dan keilmuannya.

Menambah wawasan adalah sama dengan menambah gizi bagi seorang penulis. Lagipula, menulis itu kerja otak, bukan hanya kerja tangan. Dan, internet beda dengan buku.

7. Rini Afifah Rahmah –

Foto Profil Rini Afiffah Rahmah

kalau menurut prinsip pribadiku, menjadi seorang penulis itu tidak harus terkenal pada jutaan orang. Tapi saat karya kita dapat di nikmati dan dibaca orang lain, itu sudah cukup.

Strategi terbaik agar karya kita dapat berpengaruh bagi pembaca adalah :

1. membuat judul cerita yang sedang musim (booming)

2. mencari judul buku yang unik dan menarik

3. membuat cerita dengan bahasa yang ringan.

4. punya ciri khas tersendiri.

D. Tips untuk penulis pemula :

1. Saat mendapatkan ide, segeralah menulisnya dibuku atau komputer yang anda miliki.

2. belajar PEKA pada lingkungan. Karna terkadang apa yang kita lihat bisa menjadi inspirasi untuk membuat tulisan

3. jangan ragu untuk minta kritik dan saran pada orang lain tentang karya yang telah selesai ditulis.

4. perbanyaklah membaca. Terutama membaca cerpen/novel orang lain yang sudah terbit di majalah, media massa atau pun yang terpajang dirak-rak toko buku.

kalau mau berteman follow Rini Afifah Rahmah

8. Eko Istiadah

Penggunaan sosmed di era digital sangat penting. Sebagai alat promosi gratis sosmed juga bisa menjadi alat menjaring pelanggan. Ada beberapa cara menggunakan sosmed untuk mempromosikan tulisan kita.

Penggunaan sosmed di era digital sangat penting. Sebagai alat promosi gratis sosmed juga bisa menjadi alat menjaring pelanggan. Ada beberapa cara menggunakan sosmed untuk mempromosikan tulisan kita.

2. Ramah. Ramah pada siapapun yang dapat membangung kedekatan dengan teman di sosmed terutama teman yang tertarik dengan dunia literasi.

3. Buat animasi animasi lucu tentang produk. Keunggulan dan keunikan produk kita yang bisa menarik komentar teman dan jawablah dengan ramah.

5.  posting jualan kita tetapi jangan melulu dengan produk kita. Tetapi sesekali kita sharing tentang pemikiran atau ulasan berita yang menjadi trending topik.

6. Hindari postingan yang bernada konflik terutama konflik sara. 5. Hindari memposting isue politik yang sekian persen memicu konflik. Karena tidak semua teman kita akan sepemikiran dengan pilihan pandangan politik kita.

7. Menjadi penulis pemula yang pertama disiapkan adalah mental kepedean diri. Sebaik dan semenarik apapun karya kita jika kita tidak pede mempublikasikan sama saja mengukir dalam ruang gelap. Tidak akan terlihat keindahannya ataupun keunikannya.

Terus belajar tentang kepenulisan yang baik dan benar. Terus kumpulkan tekat menulis apapun dengan baik dan benar.

Terus menggali potensi diri yang mungkin saja keunikan kita tidak semua orang mempunyainya. Sebenarnya menulis itu ada visi misinya. Tetapi tidak semua penulis memilikinya. Penulis yang baik pasti mempunyai visi misi yang utama selain faktor ekonomi.

mau berteman dengan kak Eko Istiadah

9. Zoya Andairuz

Dari kecil hoby ku memang menulis dan membaca, Namun, hoby itu perlahan hilang karna rutinitas kerja Cita-cita menjadi penulis hanya sebuah mimpi Suatu ketika, saya mulai membaca sebuah buku kumcer, berkenalan langsung dengan penulisnya Siapa sangka, dari situlah awal di mulai cita-citaku Aku yang lama tertidur dan hanya bermimpi, akhirnya mulai bangun dan mencoba mewujudkan mimpi.

Dengan hanya bermodalkan tulisan-tulisan yang entah itu masuk kategori cerpen atau bukan, aku nekad menerbitkan buku secara indi Awalnya pesimis, karyaku tidak ada yang melirik mengingat lingkunganku yang minim akan minat baca.

Namun, justru hal tak terduga datang, Berkat kedekatanku dengan teman di lingkungan kerja, lingkungan rumah dan teman social media.

karya pertamaku di sambut hangat Pujian yang mereka berikan padaku tak lantas membuatku puas, justru membuatku semakin semangat menulis.

Tujuan utamaku memang mewujudkan mimpi, Tapi, ada sebongkah mimpi lain, yaitu membangkitkan minat baca yang sudah mulai pudar di kalangan masyarakat Akhirnya aku pun tau satu hal, Selain dari buku yang aku tulis.

Mereka pun sebenarnya suka membaca via online, Sesering mungkin aku menuangkan imajinasiku dalam bentuk cerpen atau cerbung yang aku share di media online facebook.

Masih berharap membaca akan mejadi hoby di maayarakat luaas

Terkadang, rasa minder datang saat aku mengikuti karya- karya dari teman teman di komunitas kepenulisan dan grup kepenulisan

Mereka yang begitu detail saat menulis, faham akan materi kepenulisan, sedangkan aku minim materi

Bisa di bilang aku menulis asal gores, apa yang ada di fikiran aku tuangkan, Karna sejujurnya aku memang tidak pernah mengenyam pendidikan kepenulisan, karna aku hanya lulus SMP, dan ilmu dari guru saat aku belajr di SMP lah yang memberiku kekuatan terbesar untuk menulis.

mau berteman dengan Zoya Andaruz

10. Abdi Gusti Septa

A. Penggunaan Sosial Media : melalui Sosial Media, penulis pemula bisa memperoleh inspirasi atau ilmu baru dan mempermudah mempublikasikan hasil karya.

B. Membangun Jaringan : Networking dengan penulis lain perlu untuk mengembangkan kemampuan menulis yang optimal.

c. Membangun Branding Penulis : Pilihlah sebuah jalur sastra sebagai karya yg bisa kamu hasilkan. bisa puisi, cerpen, dll. Disamping itu, kamu harus concern pada suatu tema sehingga orang2 mengenalmu lewat tema tsb.

D. Tips manjur utk penulis pemula : Jangan ragu-ragu mengakui kesalahan, jangan putus asa untuk belajar menghasilkan suatu karya yg bagus

11. Desti Anggraini Nor – destianggraininor.blogspot.co.id

Menjadi penulis, tidak terjadi dalam satu malam. Ada banyak rentetan perjuangan yang konsisten dilakukan untuk sampai ke tahap yang disebut “Penulis”. Ya.

Semua tahu, penulis sehebat apapun karyanya, sekeren apapun kualitas tulisannya, se-original apapun idenya, tanpa promosi hanya akan jadi bacaan satu dua kepala saja.

Itulah kenapa, penting untuk promosi dan silaturrahim dengan pembaca atau penulis lain.

Membangun jaringan dan branding diri keduanya bisa dilakukan lewat media sosial.

Sosial media adalah fasilitas gratis yang bisa dimanfaatkan penulis untuk mempromosikan karyanya. Tentu saja dengan berbagai tahapan yang tepat sasaran:

1. Aktif menulis lewat status Dengan rutin menulis status, minimal satu hari sekali, pelan-pelan akan membantu membangun image dan gaya tulisan kita di hadapan pembaca. Hal ini bisa membuat mereka memberi like, comment bahkan share yang nantinya kembali pada penulisnya sebagai satu kebaikan.

2. Membagi sebagain kecil isi dari buku Jadi penulis jangan pelit-pelit. Bagikan setidaknya hal kecil yang ada dalam buku yang kita tulis. Sehingga membuat pembaca tertarik dan penasaran.

3. Memposting sampul buku dengan quote terbaik Teknik repitisi atau pengulangan dalam memperlihatkan sesuatu, cukup mujarab membuat orang lain ingin memiliki. Berkali-kali posting gambar buku dengan kutipan paling ok, membuat calon pembaca akan tumbuh rasa ingin tahunya. Selain media sosial jadi ajang mengenalkan karya dan branding diri, tentu saja berguna untuk memperluas jaringan. Lalu apa pentingnya punya jaringan luas?

 

Penulis tidak hidup sendirian untuk jadi penulis. Butuh partner atau teman yang sama menyukai satu hal.

Bagaimana akan memberi tips menulis yang mudah jika teman-teman dalam media sosial bukanlah mereka yang tertarik dengan kepenulisan?

Akan percuma. Oleh karena itu, jaringan sesama penulis diperlukan bahkan harus. Untuk sama-sama saling menopang, mengoreksi dan bahkan bisa berkolaborasi menulis buku. Asyik, kan? Terakhir, kamu baru ingin belajar menulis? Simak tips jitu dari saya ya:

1. Mulai menulis dari apa yang paling dikuasai

2. Berteman dengan penulis-penulis. Baik penulis ulung sampai yang masih unyu. Di dunia nyata atau di dunia maya bukan masalah

3. Perbaiki citra dan kualitas diri agar dipercaya dan diakui karyanya

4. Ikuti training kepenulisan. Banyak kok dari yang berbayar sampai gratis ada.

5. Pastikan, menulis hal-hal baik yang lahir dari hati. Tulisan itu adalah tanggung jawab penulisnya. Tidak mau, ‘kan? Gara-gara tulisan akan menambah timbangan dosa di akhirat jadi berat? So, jangan tulis yang mengajak pada hal-hal buruk.

6. Tetap konsisten menulis. Karena kita tidak pernah tahu kapan waktu akan menggoreskan nama diri sebagai penulis yang diakui negeri.

saya jawab ke empat poin dg narasi yang jadi satu biar nyambung semua. oke ya.

mau berteman di  FB Desti Anggraini Nor 

12. Ratih Amalia Lestari

A. Penggunaan sosial media adalah upaya mempromosikan hasil karya karya saya agar dapat dibaca publik di mana saja. B. Membangun jaringan agar kita sebagai penulis meningkatkan kualitas karya kita

C. Kita harus mempunyai ciri dari karya yang kita buat sendiri sebagai bukti kalau kita tidak menjiplak

D. Selalu mencoba menulis dan yakin kalau tulisan itu bermanfaat

13. Molzania –  Molzania.com

a) Penggunaan social media

Sebagai penulis blog, sosial media penting sekali untuk promosi. Hampir semua orang menghabiskan waktunya untuk bermedsos. Jadi ini sarana bagus utk mengenalkan karya kita kepada umum.

b) Membangun jaringan

Dengan aktif di grup penulis online atau blogging baik untuk mengenalkan blog kita. Atau bisa juga dengan mengenalkan blog ke teman2, dengan cara rajin ikutan acara kampus atau aktif di majalah untuk mahasiswa. Itu akan lebih efektif untuk mendapatkan relasi. Selebihnya kita bisa melakukan blogwalking ke blog orang lain di luar sana. 

 c) Membangun branding penulis

Kalo menurut Molzania, yang penting itu menulislah sesuai passion. Ga usah mikirin brand. Biarkan orang lain menilai kita lewat tulisan kita. Kalau ingin cepat dikenal, tulis sesuatu yg viral dan kontroversial. Tapi biasanya penulis macam itu akan lebih cepat turunnya. Jadi menurut Molzania, sebaiknya tulis apapun yang ingin kamu tulis. Niatkan utk berbagi, insya Allah lebih berkah.

d) Tips manjur untuk penulis pemula / baru dari kakak apa

Berlatih terus menerus. Kalo mau jadi chef handal, ya mesti latihan masak. Kalau mau jadi penulis, ya latihan nulis. Jangan lupa pelajari eyd juga agar tulisanmu lebih mantab. Aktif di grup kepenulisan untuk belajar dari senior yang udah jago nulisnya. 🙂

 

 

50 Strategi dan Cara Menjadi Penulis yang Sukses dari 13 Penulis Indonesia Terbaik

Leave a Reply